Traffic (2000)

Kebetulan barusan baca rumor tentang proyek film terbaru Kathryn Bigelow (as everyone knows, sutradara terbaik Oscar 2010 lewat film The Hurt Locker) di majalah film digital FlickMagazine. Judul film terbarunya itu Triple Frontier. Ini film action dan drama, dengan setting kisah tentang pengedaran narkoba. Baru sepintas baca bagian itu, aku sudah kebayang-bayang Traffic, filmnya Steven Soderbergh (sutradara Erin Brockovich, seri Ocean’s dan The Informant) di tahun 2000. Dan di Flick emang dibilang kalo Triple Frontier akan memiliki kesamaan dengan Traffic. Sekarang aku mau review film Traffic, film berat yang justru jadi box office worldwide di tahun 2000.

Traffic merupakan film yang bertabur bintang buatku. Mungkin dulu banyak yang belum ‘punya nama’, tapi sekarang nama-nama bintang yg ikut main di Traffic cukup diperhitungkan di Hollywood. Temanya cukup berat, tentang gembong narkoba dan mafia-mafia yang terlibat dalam peredaran narkoba untuk keluar masuk negara adidaya Amerika Serikat.

Aku bukan penggemar berat film action, aku cuma nonton film action kalau aktornya aku suka banget. Dan alasan aku nonton Traffic adalah karena pengen lihat Michael Douglas dan Catherine Zeta-Jones di satu film. Meskipun mereka tidak pernah ada di satu scene di film ini.

Traffic sendiri kalau dilihat garis besarnya merupakan film multiplot. Setidaknya ada tiga plot di film ini. Plot pertama kelihatan di awal film, bersetting di Tijuana, Meksiko. Dua polisi, Javier Rodriguez (Benicio Del Toro) dan Manolo Sanchez (Jacob Vargaz), sedang beroperasi dan menggerebek kurir narkoba yang sedang dalam perjalanan membawa narkoba di gurun. Kedua polisi ini mendapat tugas untuk membongkar cartel Obregon, cartel narkoba raksasa di Tijuana, yang punya akses dengan pengedar narkoba terbesar di Amerika. Rodriguez dan Sanchez juga terjebak di antara para polisi korup yang bersedia menukar informasi yang mereka dapat tentang pengedar narkoba itu dengan uang.

Plot kedua settingnya di Amerika. Tokoh sentralnya adalah Hakim Robert Wakefield (Michael Douglas). Dia adalah seorang hakim pengadilan tertinggi di Ohio. Dia ditunjuk pemerintah utk mengungkap penyelundup narkoba terbesar di Amerika dan sedang bekerja sama dengan kepolisian Meksiko untuk menangkap pengedar narkoba di sana, untuk memutus rantai peredaran narkoba dari Meksiko ke Amerika. Ironisnya, meskipun dia terkenal gencar dan tegas dalam memberantas kasus narkoba, Robert nggak sadar kalau putri tunggalnya, Caroline (Erika Christensen), adalah pecandu narkoba. Setahu Robert, Caroline adalah murid teladan di sekolahnya. Sementara istrinya, Barbara Wakefield (Amy Irving), menyembunyikan kecurigaannya tentang kecanduan anaknya dari suaminya karena dia ngerasa anak muda panteslah diberi sedikit kebebasan untuk mencoba narkoba, seperti dirinya waktu masih muda dulu. Konflik rumah tangga terjadi karena Robert sama sekali nggak setuju dengan cara Barbara. Dan hal itu bisa merusak reputasinya sebagai tsar narkoba di negaranya.
Parahnya, selain kecanduan narkoba, Caroline terlibat prostitusi, hanya demi mendapatkan obat-obatan terlarang. Ancur bangetlah pokoknya ceritanya Caroline itu. Pacar Caroline, Seth (Topher Grace), yang akhirnya jadi jujugan Robert untuk ngasih tahu di mana anaknya nyari narkoba dan ngejual diri, karena Seth juga yang ngenalin narkoba ke Caroline.

Plot ketiga lebih dramatis dan complicated. Cerita berpusat pada kondisi Helena Ayala (Catherine Zeta-Jones), ibu dari seorang anak lelaki dan sedang mengandung anak keduanya 6 bulan, yang selama pernikahannya mengira bahwa suaminya, Carlos Ayala (David Bauer), adalah seorang pengusaha sukses. Nyatanya, Carlos sama sekali bukan pengusaha, tapi dia adalah pengedar narkoba terbesar di Amerika. Dia pemasok narkoba ilegal.
Helena merasa kehidupannya luar biasa harmonis sampai suatu ketika Carlos ditangkap oleh DEA, dibawah pimpinan agen yang sedang menyamar, Montel Gordon (Don Cheadle) dan Ray Castro (Luiz Guzman), yang selama itu sudah memata-matai Carlos. Ditemani pengacara sekaligus sahabat suaminya, Arnie Metzger (Dennis Quaid), Helena melalui berbagai macam tekanan.
Helena akhirnya terlibat dalam bisnis peredaran narkoba setelah dia kehabisan uang untuk melunasi hutang suaminya, sementara pengedar yang masih mempunyai hutang pada suaminya tidak mau melunasi hutangnya karena takut disangkutpautkan oleh DEA. Lebih jauh lagi, naluri Helena untuk membebaskan suaminya dari penjara membuat dia melakukan segala macam hal, termasuk menyewa pembunuh bayaran terkenal untuk membunuh saksi utama dalam kasus suaminya.
Helena secara tidak langsung juga dipaksa untuk bernegosiasi dengan Juan Obregon (Benjamin Bratt), pemilik cartel Obregon, cartel narkoba terbesar di Tijuana, yang sebelumnya punya pembicaraan tentang penyelundupan narkoba dengan suaminya.

Dan film yang berdurasi 150 menit ini sungguh terasa berat untuk dinikmati penggemar film drama komedi romantis seperti aku. Hahaha. Awalnya film ini berdurasi 3 jam 10 menit, tapi dengan pemotongan di sana-sini, hasil akhirnya jadi 2 jam 20 menit. Cukup panjang. Ehm, panjang sekali, lebih tepatnya. Hehehe…

Steven Soderbergh benar-benar detil dalam memasukkan tiap adegan dan memilih pemeran dalam film ini. Setiap film yang adegannya diambil di Tijuana diambil dengan menggunakan hand-held kamera. Ketara banget kok di filmnya, gimana pengambilan gambarnya dinamis banget, apalagi untuk adegan yang alurnya cepat. Dia juga mengoperasikan sendiri hand-held kameranya utk adegan di Tijuana. Karena dia ngerasa dia perlu ngebuat jarak seminimal mungkin antara kamera dan para aktor, agar penonton bisa ikut merasakan gejolak di film itu.

Steven Soderbergh juga dengan cerdasnya memberikan nuansa warna yang berbeda di tiap plot. Perhatikan deh. Setiap adegan di Tijuana, Soderbergh ngebuat saturasi warna kekuningan. Kayak kalau mainin mode di kamera digital atau kamera ponsel, sedikit seperti sephia. Tapi lebih kuning tone-nya, dan kontrasnya tinggi banget. Terasa kering, tajam dan ‘keras’, seperti menggambarkan kehidupan di Meksiko.
Setiap adegan yang berhubungan dengan Robert Wakefield, baik di Ohio maupun di Washington DC, warnanya berubah jadi kebiruan. Kayak efek cool di kamera digital. Warna-warna ini ngebuat kita semakin terbawa suasana. Atmosfernya tiap bagian “Wakefield” pasti dingin, sendu, gloomy dan depressive banget.
Untuk bagian Ayala, Steven ngebuat warnanya terang, bersinar, hangat, saturasi di warna-warna utama, terutama merah. Menurutku biar cocok dengan kehidupan Helena yang ‘gemerlap’, tapi dalam hal yang negatif dan menyedihkan.
Hal ini dilakukan agar penonton nggak perlu menebak-nebak mereka lagi ngeliat plot yang mana di film itu. Hanya dengan merasakan warnanya, penonton sudah tahu mereka lagi ngeliat cerita yang mana. Soderbergh juga pengen penonton bisa fokus sama cerita dan tokoh-tokohnya yang banyak banget, bisa nangkep alurnya yang agak rumit tapi memiliki kaitan di tiap plotnya.
 

Dan rasa-rasanya nggak ada yang miscast di film ini. Benicio Del Toro diganjar penghargaan aktor pembantu terbaik Oscar di tahun 2000 lewat perannya di film ini. Dan dia jadi salah satu dari empat aktor pemenang Oscar yang memenangkan piala itu lewat peran yang tidak menggunakan bahasa Inggris.
Sembilan puluh persen dialog Benicio di film ini menggunakan bahasa Spanyol, jadi mereka pakai subtitle di film ini utk ngartiin ucapan-ucapan Benicio dan para polisi yang bersetting di Tijuana. Penggunaan dialog dalam bahasa Spanyol ini ditujukan utk tidak mengurangi rasa budaya Meksikonya. Bayangin aja, nggak asik banget kalo adegan di Meksiko pake bahasa Inggris, padahal mayoritas cerita di Meksiko tentang polisi dan pengedar narkobanya, yang asli orang Meksiko. Benicio mati-matian ngembangin bahasa Spanyolnya di peran ini karena dia nggak mau sepanjang film dia main pas-pasan dan akhirnya sutradara mutusin buat nge-dubbing suaranya pake bahasa Inggris karena putus asa dengan standarnya kemampuan Spain-nya.

Michael Douglas juga dapet banget chemistry-nya. Dilema antara hakim pengusut kasus narkoba dan ayah dari remaja pecandu narkoba bisa keliatan banget dari ekspresi stresnya. Gimana reaksinya waktu nemuin putrinya beneran pake narkoba, waktu putrinya mulai mencuri perhiasan istrinya buat beli narkoba. Dan gimana khawatirnya dia waktu putrinya nggak pulang, dan dia sendiri mesti turun ke daerah penjualan narkoba untuk nyari putrinya dari satu hotel ke hotel lain. Dilemanya itu kentara banget! Michael Douglas perfect banget mainnya! :D

Padahal awalnya dia nolak peran Hakim Wakefield ini. Peran ditawarkan ke Harrison Ford, dan Harrison minta ke Soderbergh utk ngembangin karakter Wakefield yang sebelumnya standar. Tapi ujung-ujungnya Harrison batal main karena tidak ada kesepakatan honor. Peran ditawarkan kembali pada Michael Douglas, dan Michael senang sama karakter baru Wakefield. Akhirnya dia nerima peran itu. And he went perfectly… :)

Belum lagi Benjamin Bratt, yang memerankan Juan Obregon, yang bahkan cuma tampil di satu-dua scene! Dialah orang yang paling dicari oleh tokoh di seantero film! Kumis tipis dan tatapan matanya bener-bener nunjukin kalau dia tokoh bengis. Bengis bukan dalam ukuran pembunuh. Tapi dia bener-bener straight untuk masalah narkoba. Negosiasi yang nggak nguntungin dia, nggak akan diladeni. Nggak ada belas kasihan.

Catherine Zeta-Jones nggak ketinggalan patut dipuji. Dalam kondisi hamil beneran (hamil anaknya Douglas itu, dan beberapa bulan setelah film selesai, mereka menikah). Awalnya Helena itu diceritain ibu dari dua anak. Tapi setelah Zeta-Jones negosiasi sama Soderbergh, Soderbergh mau ngerubah karakternya jadi wanita hamil. Dan dapet banget stresnya! Udah ngurus anak kecil, lagi hamil, suami dipenjara, terlibat hutang, mesti ikut masuk ke bisnis kelam suaminya pula! Brilian banget! Kelihatan banget gimana Helena berusaha tabah dan berubah jadi wanita tangguh dalam menghadapi kasus suaminya. Dari awalnya yang dia merupakan ibu-ibu elit kelas atas dengan kehidupan mewahnya, hingga terlibat bisnis kotor dan usaha pembunuhan.

Erika Christensen sama Topher Grace sama-sama masih muda banget dan belum punya daftar film yang patut dibanggakan waktu itu. Tapi keduanya pasti menarik perhatian. Dan sudah jelas jadi pengamatan kritikus film untuk karir ke depannya. Sekarang, sepuluh tahun setelah Traffic, Topher diingat sebagai fotografer Buggle sekaligus Venom di Spider-Man 3 dan lawan main Anne Hathaway di salah satu plot Valentine’s Day.

Film ini jelas membawa pesan tentang peperangan melawan narkoba. Tapi seperti yang aku tangkep di dialog Eduardo dan Seth, kita nggak akan pernah menang melawan narkoba. Siklus perdagangan narkoba sudah terjadi sejak lama dan nggak akan bisa berhenti. Pemerintah Amerika sudah lama menyerah melawan narkoba. Tapi ada sebagian kecil dari mereka, seperti Hakim Wakefield, yang tidak mau menerima kenyataan itu dan bekerja keras mengungkap kasus narkoba di negaranya.
Seberapa keras mereka bekerja mengungkap dalang di balik perdangan narkoba terbesar itu, tetep aja bakal ada yang lolos. Seperti kasus Ayala yang akhirnya bisa kembali ke pelukan keluarganya.
Tapi seperti Wakefield, Montel Gordon nggak berhenti sampai di situ. Ending film ini ngegantung saat Gordon masuk lagi ke rumah Ayala dan masang alat penyadap, untuk sekali membuktikan bahwa Ayala patut dihukum atas kejahatannya, yang juga menyebabkan partnernya, Ray, meninggal.


Rating film ini buatku: 7,5/10.
Keren banget, meskipun aku bukan penggemar film berat seperti ini. Di tahun 2000, mereka dapet 4 piala Oscar, utk kategori editing terbaik, aktor pembantu terbaik, sutradara terbaik, dan film adaptasi terbaik.
Film Traffic ini diadaptasi dari mini-seri Inggris tahun ’90, Traffik.

Advertisements

2 thoughts on “Traffic (2000)

  1. “Traffic, film yang meraih Oscar untuk kategori Best Picture di tahun 2000.” Yanti, salah tuh, yg bener yg menang best picture itu “American Beauty”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s