Erin Brockovich (2000)

Satu lagi film Steven Soderbergh yang aku tonton. Film ini rilis tahun 2000, sebelum Traffic. Film ini campur-campur deh, ya. Biografi jelas, drama iya, romantis iya, komedi iya! Meskipun nggak intens.

Jadi film ini diangkat dari kisah nyata seorang wanita bernama Erin Brockovich, yang di film diperankan dengan sangat gemilang oleh pretty woman kita, Julia Roberts.
Erin Brockovich adalah single mother dengan tiga anak, Matthew, 8, Katie, 6, dan Beth, 8 bulan. Dia menikah dua kali, dan bercerai dua kali. Kini dia tinggal dengan tiga anaknya, tanpa uang, tanpa pekerjaan.

Sebuah kecelakaan mobil yang dia alami membawa dia pada Ed Masry (Albert Finney), seorang pengacara dan pemilik firma hukum kecil. Erin adalah korban di kecelakaan mobil itu, dan Ed gagal memenangkan kasusnya.
Karena keras kepalanya Erin buat dapet uang, akhirnya dia maksa kerja di firma hukum Ed, jadi apapun, bahkan sekadar menata dan mengurutkan arsip klien. Ed yang sebenernya masih punya hati dan nggak tega ngelihat Erin dengan tiga anak tanpa suami akhirnya mengijinkan Erin kerja serabutan di kantornya. 


Dari pekerjaan sepele itu, Erin nemuin sebuah data klien Ed yang menarik perhatiannya. Data Donna Jensen dan keluarganya. Satu data itu akhirnya membawa Erin ke sebuah kasus besar berupa pencemaran air di daerah Hinkley oleh perusahaan gas PG&E, yang memberikan dampak penyakit pada warga di sekitarnya yang memakai air itu untuk kehidupan sehari-harinya. Warga di Hinkley tidak ada yang tahu kalau air di sana beracun, mereka juga tidak menyangka kalau semua penyakit yang mereka alami adalah karena pencemaran air oleh chromium. Mereka juga tidak pernah curiga setiap PG&E membayar semua biaya rumah sakit setiap mereka ada keluhan.

Setelah investigasi berhari-hari, Erin melapor pada Ed tentang hasil temuannya itu. Setelah diskusi alot, akhirnya Ed bersedia mengusut kasus itu. Setelah sadar kalau PG&E adalah perusahaan senilai 28 triliun dolar, sebuah angka yang fantastis besarnya, dan nggak sepadan dengan nilai ganti rugi pembebasan lahan bagi warga Hinkley agar mau menjual rumahnya pada PG&E dan bila semua biaya rumah sakit digabung.
Mengendus adanya ketidakadilan dan ketidaksejahteraan kliennya dan seluruh warga Hinkley, Ed akhirnya benar-benar masuk ke kasus itu. Dibantu oleh Erin.

Erin bukan pengacara, juga bukan orang yang mengerti hukum. Tapi dia kukuh mengusut kasus itu. Dengan pembawaan yang apa adanya, pakaian seksi dan semaunya, bahasa cenderung kasar, tapi sikap rendah hati dan penuh simpatinya, Erin berhasil mendekati warga Hinkley untuk terbuka dengan penyakitnya, dan memberitahu mereka kalau semua itu ada hubungannya dengan pencemaran air oleh PG&E. Maka dari itu, warga Hinkley harus mau menyuarakan keluhannya. Ada 600 warga yang menderita penyakit, baik ringan maupun berat, akibat pencemaran itu. Dan PG&E adalah perusahaan besar, yang sudah menyembunyikan kasus ini sejak tahun ‘60an.

Di sisi lain hidupnya, Erin berkenalan dengan tetangganya, George (Aaron Eckhart). George adalah seorang pekerja serabutan yang tampil sangar. Di balik rambut gondrong, badan gempal, tato dan segala aksesoris pengendara motor, George adalah sosok yang lembut. Dia jatuh hati pada Erin, dan bersedia menjaga anak-anak Erin ketika Erin mesti kerja keras kesana kemari untuk mengusut kasus PG&E. George rela meninggalkan kehidupan jalanannya demi tinggal di rumah Erin dan mengasuh anak-anak Erin. Meskipun setelah sekian lama, akhirnya dia muntap. Kasus PG&E sudah menyita banyak waktu Erin untuk anak-anak dan untuknya. Sementara Erin tidak mau meninggalkan kasus itu karena untuk pertama kali dalam hidupnya, Erin merasa sudah melakukan hal benar, dan dia dihargai oleh orang lain.

Ratingku pribadi buat film ini: 7,5/10.
Ceritanya bagus banget! Minta ampun. Ini film nggak mungkin cocok kalau yang main bukan Julia Roberts! Kita sudah jelas tahu gimana Julia Roberts di Pretty Woman. Cantik, seksi, dan nakal. Tapi asik banget, karena tiga hal itu membaur dengan fakta bahwa dia sudah punya tiga anak, ditinggalkan oleh suaminya, pengangguran, dan kehabisan uang! Duh, berat banget hidupnya.
Julia juga sukses bikin kita ngakak sama kalimat-kalimat kasarnya, sarkasmenya. Sekaligus bikin kita ternganga kagum sama kemampuan dia menghapal dialog superpanjang dan supercepat, yang selalu Erin ucapkan kalau dia mulai marah atau kesel.

Albert Finney juga meranin tokoh gabungan antara ngeselin, kocak, dan baik hati. Jauh di dalam lubuk hatinya, Ed Masry itu gampang simpati sama orang. Nggak tegaan juga. Meskipun kadang ngeselin karena nggak peka sama kondisi orang. Kocaknya karena dia yang bisa ngelawan setiap argumen dan kata-kata kasar Erin, meskipun akhirnya dia selalu kalah kalau ngomong sama Erin, dan Erin selalu mendapatkan apa yang dia mau. Haha.

Aaron Eckhart… NGGAK BANGET dandanannya! Ya, ampun. Aku sepanjang film mikir, Aaron jadi siapa, kayak apa… ternyata jadi love interest-nya Julia. Digambarkan sebagai pengendara motor Harley pula! Gondrong, pirang, belah tengah, brewokan, kumisan, tatoan. Aduh, nggak banget.
Bisa bayangin nggak, sih? Modelnya sangar, tapi ngasuh anak! Gendong bayi kemana-mana, main monopoli sama anak kecil…
Oke, itu nunjukin kalau dia serius sama Erin, dia sayang sama anak-anak Erin. Dan dengan semua keironisan itu, kontrabilitas gaya dan kegiatannya, akhirnya dia toh muntap juga. Dia kangen sama kehidupan lamanya di atas motor, ngelayap sama temen-temennya di jalanan. Dan dia muak sama Erin yang terus-terusan ninggalin dia sama anaknya.

Julia Roberts diganjar Oscar sebagai pemeran wanita terbaik lewat peran Erin Brockovich. Plus, bayaran $20 juta! Rekor gaji itu pecah dan membuat Julia jadi aktris pertama yang mendapat bayaran setinggi itu di Hollywood sepanjang masa. Hanya di Erin Brockovich, dan di Mona Lisa Smile, Julia masang harga sebegitu tinggi.

Erin Brockovich sama-sama merupakan kerja sama pertama Julia dan Albert dengan Steven Soderbergh. Juga Cherry Jones, pemeran Pamela Duncan di film ini.
Mereka akhirnya kerja di satu film lagi di Ocean’s Twelve. Di mana Steven jadi sutradara, Julia jadi Tess, Albert jadi Gaspar LeMarque, dan Cherry jadi Mrs. Caldwell, ibunya Linus.
Sementara Albert, sesudah Erin Brockovich, juga masuk ke proyek Steven, Traffic (ada di review-ku sebelumnya). Dia jadi kepala staf pengadilan di Washington DC, satu scene sama Michael Douglas.

Film ini layak banget ditonton. Kayak meskipun kamu nggak suka sama sci-fi, tapi kamu nonton A Beautiful Mind, kamu nggak akan nyesel. Really worth to watch… :)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s