Falling Down (1993)

Film karya Joel Schumacher (sutradara Dying Young, Batman Forever, Batman & Robin, The Number 23) ini adalah kerja sama pertama dia dengan Michael Douglas. Ini film kelima Joel Schumacher yang aku tonton, dan secara singkat aku merangkum film ini dengan kata: kekacauan yang rapi.
Dying Young itu menarik simpati, Batman Forever dan Batman & Robin itu hiburan semata, The Number 23 itu membuat tertekan. Falling Down ini menimbulkan belas kasihanku pada karakter yg diperankan Michael Douglas.

The adventures of an ordinary man at war with the everyday world. Itu tagline film ini.

Michael Douglas berperan sebagai William Foster, atau dia lebih suka dipanggil Bill, atau yg lebih aneh lagi, di credit title namanya ditulis sebagai D-Fens, merujuk pada plat nomor mobilnya. Identitas Bill sebenarnya nggak diketahui hampir di sepanjang film.

Di suatu siang hari yang luar biasa panas, Bill terjebak dalam sebuah kemacetan luar biasa dalam perjalanan ‘pulang’. Dalam mobil yang terjebak macet, Bill memperhatikan setiap detil kondisi sekitarnya. Dengan cuaca yg luar biasa panas dan AC mobil yang tidak menyala, Bill merasa luar biasa tertekan. Saking sumpeknya, dia keluar dari mobil, meninggalkan mobilnya di tengah kemacetan dan memutuskan untuk ‘pulang’ dengan berjalan kaki.

Dari sinilah semua bermula. Bill ternyata adalah sosok yang tidak akan segan-segan melawan atau mengekspresikan kemarahannya kalau ada sesuatu yang nggak sreg bagi dirinya. Dia membuat isi sebuah mini market milik orang Korea hancur berantakan karena harga barang-barang di toko itu tidak realistis dan terlalu mahal, menurutnya.
Lantas dia berurusan dengan anggota geng yang memerasnya karena dia dianggap melewati wilayah mereka. Bill lantas berkeliaran sambil membawa tas berisi banyak senjata yang dia ambil dari tangan anggota geng itu. Dia membuat keributan di sebuah restoran cepat saji saat dia meminta menu untuk sarapan, padahal saat itu sudah siang dan mereka tidak lagi menyediakan menu sarapan melainkan menu makan siang.
Bill merusak telepon umum di dekat resto cepat saji itu saat orang yg antri di belakangnya protes karena dia lama menggunakan telepon. Bill juga membunuh pemilik toko pakaian dan sepatu serta aksesoris Nazi yang membuatnya kesal.

Dia berjalan-jalan ke dalam arena golf dan mengamuk ketika seorang pemain mengusirnya dari sana. Dia menenteng senjata dan malah membuat pemain golf yang sudah tua itu terkena serangan jantung.
Dia berjalan terus sampai dia masuk ke halaman sebuah rumah mewah dan menakuti keluarga kecil di sana. Dia juga protes terhadap perbaikan jalan yang dianggapnya tidak perlu karena jalan itu baik-baik saja, dan kontraktornya hanya mencari untung dengan perbaikan tidak penting itu. Sampai Bill menembakkan bazoka (yang didapatnya dari tas gym anggota geng tadi) dan membuat kacau perbaikan jalan tersebut.

Hampir setiap kali dia melakukan keributan, Bill mampir di telepon umum untuk menelepon ke ‘rumah’. Dia memberitahu Beth (Barbara Hershey) kalau dia akan datang karena hari itu adalah hari ulang tahun Adele, putri mereka. Namun Beth, mantan istrinya, ketakutan. Tiga kali Beth memanggil polisi untuk berjaga di rumahnya, kalau-kalau Bill datang dan mereka bisa menangkap mereka.

Beth tidak tahu apa yang sudah Bill lalui untuk sampai di rumahnya. Tapi berdasarkan pengalaman masa lalunya, Beth tidak akan membiarkan Bill mendekati dia dan anaknya. Beth tidak tahu kenapa, tapi sejak dulu dia memang mengira kalau Bill sakit. Entah ada apa, namun Beth merasa Bill bisa saja menyakiti dirinya dan anak mereka. Karena itu dia bercerai dari Bill dan merawat Adele sendirian. Termasuk ketidakmampuan Bill untuk membiayai kehidupan mereka dan menunjang biaya hidup Adele.

Di sisi lain, ada Detektif Prendergast (Robert Duvall; The Godfather, A Civil Action), yang sedang menjalani hari terakhirnya sebagai polisi sebelum pensiun keesokan harinya. Dia sudah memutuskan untuk tidak menangani kasus apapun hari itu dan ingin pulang cepat karena istrinya yang paranoid menunggunya.
Namun hari itu tidak berjalan mulus bagi Prendergast. Sejak terjebak kemacetan dalam perjalanan menuju kantor, dia secara tidak langsung berhubungan dengan Bill. Mulai dari ikut mendorong mobil Bill ke tepi jalan agar tidak memperparah kemacetan, hingga tiap laporan kejahatan masuk yang didengarnya, dia merasa curiga hingga dapat mengaitkan semua kasus yang terjadi hanya dalam sehari itu. Lantas dia memutuskan untuk turun ke lapangan dan menyelidikinya sendiri.
Dengan ditemani Detektif Sandra Torrez (Rachel Ticotin; The Eye), penyelidikan itu memberi mereka petunjuk di mana rumah Bill.

Sampai di rumah Bill, ternyata hanya ada ibu Bill. Dan dari keterangan ibu Bill, Prendergast mengorek keterangan tentang pria yang sudah membuat kekacauan di sepanjang hari. Dari situ kita bisa bahwa Bill mengalami tekanan psikologis dan delusi yang membuat dia berpikir bahwa komunis masih akan menyerang Amerika dan dia merasa harus membuat sesuatu untuk melindungi dirinya dan keluarganya. Karena itu dia bekerja di pabrik pertahanan.

Karena merasa Bill tidak ‘pulang’ ke rumah ibunya, maka Prendergast mencari rumah lain yang sekiranya jadi jujugan Bill untuk ‘pulang’. Dan perkiraannya jatuh pada rumah mantan istrinya. Dan mereka sampai di sana tepat saat Bill sedang menonton video ulang tahun Beth yang dulu. Kita bisa lihat dari video itu bahwa Bill bahkan memaksa Adele yang baru berumur 1 thn untuk duduk di atas kuda-kudaan meskipun Adele menangis kencang karena takut. Jelas, ada yang salah dengan Bill dan kita harus menyimpulkan sendiri apa sebenarnya mau Bill.

Sejak awal, aku nggak merasa Michael Douglas sebagai ‘si jahat’ di film ini. Aku belum pernah baca review film ini, hanya aku tahu kalau film ini menuai banyak sekali pujian dan dianggap sebagai salah satu film terbaik Michael Douglas. Catherine Zeta-Jones bahkan menjawab film ini ketika ditanya film suaminya yang paling dia suka.
Tapi sejak awal aku sudah kasihan sama tokoh Bill. Aku sudah merasa kalau orang itu ‘sakit’. Dia nggak bisa mengontrol emosinya. Harusnya dia bisa jadi orang yang cukup asertif, kalau dia tahu batasannya. And for hell’s sake, dia cuma ingin ketemu anaknya dan mengucapkan selamat ulang tahun! Lihat apa yang sudah dia lakukan hanya untuk ‘pulang’ dan bertemu dengan putrinya. Aku sungguh jatuh iba pada Bill. Meskipun tiap Bill melakukan kerusakan hanya karena dia marah pada hal sepele, aku selalu bilang kalau dia gila, tapi aku kasihan sama dia.

Film ini cukup memenuhi harapanku. Tapi film ini tidak melebihi harapanku. Ngerti bedanya, kan?
Buatku The Game dan Wonder Boys masih lebih bagus. Paling tidak keduanya meninggalkan kesan mendalam buatku. Karena tokoh yang diperankan Michael Douglas masih ‘melanjutkan hidupnya’. Jadi tahu kan gimana ending film ini? Hehehe… *spoiler*

Dan sejauh aku nonton film-film Michael Douglas, sejauh ini sudah lebih dari 10 film, nggak ada yang miscast. Buatku, semuanya pas. Luar biasa. Aku nggak tahu apakah Michael Douglas yang nggak pernah salah dalam milih peran, atau apakah dia membuat SEMUA karakter yang diperankan terlihat begitu pas dia mainkan. Aku rasa yang kedua. Karena sekalipun filmnya temanya ringan dan perannya kecil, rasanya Michael Douglas sudah memberikan semua yang dia punya untuk memerankan tokoh itu.

Mengutip Roger Ebert,

What is fascinating about the Douglas character, as written and played, is the core of sadness in his soul. Yes, by the time we meet him, he has gone over the edge. But there is no exhilaration in his rampage, no release. He seems weary and confused, and in his actions he unconsciously follows scripts that he may have learned from the movies, or on the news, where other frustrated misfits vent their rage on innocent bystanders.

Rating film ini di imdb.com adalah 7,5/10. Which is pretty high for me.
Kalau buatku seh, kalau film ini adalah mata kuliah, nilai akhirnya AB lah.. ;)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s