The Joneses (2009)

The Joneses, film tahun 2009 yang mungkin sangat tidak familiar di telinga kita. Kecuali anda penggemar berat Demi Moore dan mengikuti film-filmnya. Aku tertarik nonton film ini setelah liat posternya di IMDb. Aku agak nggak nangkep gimana plotnya waktu aku baca, aku cuma ngerti kalau ini film keluarga. Dan karena aku sudah lama nggak lihat aktingnya Demi Moore, so then I waited for almost a year till I got the download links of this movie. Setelah dapet, langsung aku unduh dan aku tonton. Hasilnya? This movie is really good. I never thought that this movie could be this good and worth to watch.

Tanpa bermaksud ngasih spoiler, film ini menceritakan tentang keluarga Jones, yang terdiri dari suami istri dan dua orang anak laki perempuan, yang baru pindah ke suatu kota. Dari percakapan awal mereka, mereka berniat ‘memulai hidup baru’ di kota ini. And from the very beginning, they want us to believe that these Joneses are real family. Yap, mereka bukan keluarga beneran. Mereka hanya empat orang yang berpura-pura jadi satu keluarga. Karena itulah pekerjaan mereka. Atau yang lebih keren sebutannya, mereka adalah sales dari sebuah stealth marketing.

Cara kerja mereka adalah berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain. Mereka dibayar oleh satu perusahaan untuk pura-pura jadi satu keluarga, diberi rumah mewah, mobil mewah, supaya mereka bisa menciptakan keluarga sempurna di mana tetangga dan rekan mereka. Setelah mereka bisa menarik perhatian tetangga dan mereka dapet banyak teman, diharapkan orang-orang itu akan kagum dengan semua milik mereka. Mulai dari si suami dan sederet perangkat golfnya, si istri dan anak perempuan yang cantik dan sophisticated dan punya alat kecantikan serta tas-tas bagus, dan juga si anak laki yang punya segala macam gadget terbaru. Dengan begitu, mereka bisa mempengaruhi orang lain untuk membeli produk yang mereka pakai, yaitu produk perusahaan itu tadi.

Semua berjalan lancar. Gimana mereka berhasil menggaet banyak orang dan meningkatkan penjualan mereka dan sebgainya. Tapi nggak semua cerita lempeng-lempeng aja. Si anak perempuan, Jenn Jones (Amber Heard), ternyata jadi simpanan seorang pria beristri. Si anak laki, Mick Jones (Ben Hollingsworth), ternyata adalah gay. Si istri, Kate Jones (Demi Moore), adalah wanita hampir paruh baya yang tenggelam dalam pekerjaannya sebagai sales dan nggak pernah mau mencampuradukkan masalah pribadi dengan masalah kerjaan, sekalipun dia sudah berganti-ganti suami di pekerjaannya itu. Si suami, Steve Jones (David Duschovny), adalah pria 45 tahun yang masih single dan kesepian yang jauh di dalam lubuk hatinya ingin keluarga itu jadi keluarga beneran, dan dia berusaha meluluhkan hati Kate karena dia tertarik dengan perempuan itu.

Dan puncaknya adalah ketika ada salah satu tetangga mereka yang bunuh diri karena masalah keuangan. Si kepala keluarga iri dengan keluarga Jones yang kehidupannya sempurna. Dia iri pada Steve Jones yang punya istri cantik, anak-anak, dan barang-barang mewah. Sampai dia memaksakan diri untuk membeli barang-barang yang sama mewahnya dengan keluarga Jones dan tidak mampu membiayai selebihnya. Di titik inilah Steve merasa bersalah. Dia merasa sudah berbohong pada banyak orang dan membuat orang-orang menjadi konsumeris. Dia mengaku di depan banyak orang tentang semua yang sudah dia dan ‘keluarga sempurnanya’ lakukan. Tapi sebelum dia sadar, Kate dan kedua ‘anak mereka’ sudah kabur lebih dulu dari lingkungan itu.

Film ini bagus sekali buatku karena, setelah sekian lama nonton film jadul, akhirnya aku bisa nonton film ‘modern’ lagi. You know what I mean. Film yang setingnya modern, bajunya modern, film ringan yang berlatar belakang drama keluarga, dan semacamnya. Rasanya menyegarkan. Dan lepas dari fakta bahwa ending film ini biasa aja, buatku tetap bagus. :)
It’s about starting something new, something different in your life. About being brave for fighting for something that you want or someone who you really wanna be with. Dan ini bukan semacam romantisme yang klise. Aku nggak tahu apa memang ada pekerjaan semacam itu di luar sana, tapi kalaupun ada, nggak ada yang klise dari seseoang seperti Kate dan Steve yang ingin punya keluarga sebenarnya. Nggak cuma keluarga pura-pura seperti yang selama ini mereka jalani. And that’s good, yet romantic. :)

Nilai akhir film ini: B. Quite entertaining, fresh and you’re going to want to know what will happen next.

Aku nggak pernah menganggap sebuah film sebagai suatu alat. Maksudnya kalau ada yang bilang film sebagai sarana politik, sarana dakwah, sarana menyindir. Aku nggak pernah mikir kayak gitu. Kecuali film itu film parodi (kayak Scary Movie, Dance Flick, Vampire Sucks, hehehe). Dan kalau ada yang bilang film The Joneses ini adalah film yang dimaksudkan menyindir orang-orang jaman sekarang yang mudah sekali tergiur akan barang-barang mewah, menganut konsumerisme, dan semacamnya, ya terserahlah. Buatku, film itu semata-mata untuk hiburan. Buat apa nonton film kalau nggak terhibur? ;D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s