The Notebook (2004)

Sudah sering aku dengar tentang film ini dari teman-teman. Dan nggak pernah sedikitpun ingin nonton karena aku pikir, “It’s gonna be just like other romantic movies.” Meski ratingnya di IMDb adalah 8/10. Dan RottenTomatoes ngasih 52 persen. Hadeh. Please.

Tapi nyatanya, setelah kehabisan daftar film ringan yang ingin diunduh, akhirnya aku mengunduh film ini juga. Dan langsung ditonton. Dan berakhir dengan, “This is like other romantic movies, indeed. With tears. Lots of tears.

Selama sekitar kurang dari 10 menit terakhir, air mata bercucuran tanpa henti. Dan inilah yang membuat aku jatuh hati pada The Notebook (hanya jatuh hati. Tanpa keinginan untuk melanjutkan hubungan dengan melamarnya menjadi film terfavoritku sepanjang masa). Luar biasa. Meski dalam waktu bersamaan rasanya juga biasa saja karena aku sudah banyak dengar spoiler-nya dari teman-teman. Dan sudah menonton versi bajakannya: film India yang dibintangi Kajol Mukherje.

Jadi secara ringkas, film ini mengisahkan tentang dua orang lanjut usia yang tinggal di semacam rumah sakit, di mana si bapak selalu membacakan sebuah buku pada si ibu.
Buku itu berisi sebuah kisah tentang sepasang muda-mudi bernama Noah Calhoun dan Allie Hamilton. Kisah cinta muda-mudi yang awalnya hanya summer love, lantas mendapat tentangan dari orang tua Allie karena Noah cuma pemuda miskin, dan mereka berpisah. Lantas Allie bertemu dengan pria lain dan mereka bertunangan. Tapi setelah bertahun-tahun akhirnya Allie sadar bahwa perasaannya pada Noah tidak pernah berubah. Dan cinta mereka bukan sekadar summer love seperti yang dikira orang tua Allie.

Kisah di buku itu berakhir bahagia. Dan ending kisah buku itu membawa ingatan si ibu kembali. Yang ternyata dia adalah Allie, dan bapak itu adalah Noah, dan kisah di buku itu adalah kisah cinta mereka. Yang seperti Allie tulis dengan tulisan tangannya di halaman pertama buku, “The Story of Our Lives by Allison Hamilton Calhoun. To my love, Noah. Read this to me, and I’ll come back to you.

Kisah di buku itu ditulis tangan oleh Allie sendiri, agar Noah membacakannya setiap hari agar Allie kelak dapat ingat padanya lagi. Karena Allie sendiri digerogoti Alzheimer, penyakit dementia yang membuat ingatannya mengalami degeneratif. Semakin lama, semua ingatannya menghilang. Dan ketidakinginan Allie untuk melupakan Noah membuat dia menulis buku itu dan berharap agar ketika Noah membacakan kisah cinta mereka dapat membuat Allie mengingat kembali semua kisah hidup mereka, meski hanya 5 menit dalam masa kini. Karena setelah kembali sejenak dan meminta maaf pada Noah karena sempat lupa padanya, Allie kembali lupa dan marah karena Noah tua memeluknya dan memanggilnya ‘darling‘.

Film ini sesungguhnya tidak menghibur. Meski tidak butuh film komedi untuk menghibur kita, menurutku. Buatku, film ini menyentuh. Tapi karena ukuran film menghibur bagiku adalah film yang membuatku bertahan dari awal film hingga akhir dan mendapat kesan setelahnya, maka film ini adalah film yang menghibur.

Dan yang membuat aku agak takjub adalah ternyata pemeran utama dalam film ini adalah Ryan Gosling dan Rachel McAdams! Yang memerankan Allie dan Noah ketika mereka masih muda.
Mungkin saat itu mereka belum terlalu beken. Film itu rilis tahun 2004. Dan hampir 7 tahun bergulir, kini mereka jauh lebih beken dari saat itu. Rachel McAdams dengan The Time Traveler’s Wife-nya bersama Eric Bana, dan Sherlock Holmes. Dan Ryan Gosling dengan Blue Valentine-nya.
Serta Joan Allen, pemeran ibu Allie. Yang sepanjang film membuat aku bertanya-tanya, aku pernah lihat orang ini di mana ya? Dan ternyata dia ini lawan main John Travolta di Face/Off, dan pasangan Richard Gere di Hachiko.

Film ini diadaptasi dari novel terkenal karangan Nicholas Sparks dengan judul yang sama. Disutradarai oleh Nick Cassavetes, orang yang sama yang menyutradarai film keluarga penuh air mata, My Sister’s Keeper. Sepertinya orang ini jago sekali bikin film yang bikin mewek.

Semacam kelegaan ketika sedang sumpek dan nonton film ini dan bercucuran air mata. Semua emosi menjadi satu. Apalagi mengetahui ending film ini yang beyond romantic bagiku. And yet quite tragic. Emotionally tragic.

Mungkin berlebihan. Tapi film ini begitu layak ditonton. Lebih dari sekadar layak. Dan nggak heran kalau film ini selalu masuk dalam film romantis yang patut ditonton, di setiap daftar yang dibuat oleh para kritikus film.
 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s